Subscribe to my full feed.

Wednesday, November 11, 2009

Hadiah Langka di Pagi Cerah*

Di Kovan, salah satu distrik pemukiman kelas menengah-bawah warga Singapura, laki-laki itu bersiul-siul gembira. Tubuhnya sedang semampai, kulit Tionghoanya memerah oleh sinar matahari pagi, di awal hari 23 Oktober silam. Otot-ototnya indah menjalari sekujur tubuh. Topi coklat yang lusuh, dengan sekenanya menutup rambut di kepala yang sudah mulai memanjang. Jari-jemari di tangan kanannya lincah memainkan rokok lintingan sendiri. Terpenting, mulutnya menyungging senyum pada saya, ketika tubuh saya sudah setengah masuk bus kota yang akan membawa saya ke Hougang, salah satu distrik pemukiman lain di Singapura.

Duduk di anak-tangga di bawah petirisan sebuah bangunan toko yang belum buka, siulan laki-laki itu panjang dan membentuk irama gembira. Saya seperti akrab dengan irama siulan itu, tapi hingga tulisan ini saya buat, saya gagal menebak-nebak apa judul lagu gembira itu. Mungkin penggalan siulan yang tertangkap telinga saya terlalu pendek, atau otak ini terlalu bodoh untuk mengingat sesuatu. Tapi, sudahlah! Yang penting pagi itu, saya mendapat "hadiah" yang cukup langka: sebuah senyum dan nyanyian gembira dari orang Singapura.

Ya, senyum adalah "hadiah" langka di negeri seuplik tetangga kita tersebut. Nyaris lima tahun menyetubuhi Negeri Singa, bahkan saya tak tahu nama tetangga yang tinggal tepat di depan apartemen kami tinggal. Jika kebetulan ketemu di lift dengan mereka, hanya anggukan tanpa kesan yang kami lakukan. Jika kita bersenggolan dengan sesama penumpang bus atau MRT, hanya maaf yang terucap dari mereka. Tanpa senyuman akrab. Tanpa keintiman! Bahkan ketika kebiasaan saya senyum dengan semua orang yang saya temui masih saya lanjutkan di negeri ini, saya kerap khawatir senyum saya diartikan sebagai sebuah ketidak-sopanan. Karenanya, senyuman saya tak pernah terbalas.


Tanpa keintiman! Mungkin inilah yang membuat para koruptor yang kini bermukim di Singapura berusaha sedaya upaya untuk bisa kembali pulang ke Tanah Air. Melobi sana-sini untuk mencari celah hukum agar kasusnya bisa diselesaikan. Saya membayangkan bagaimana tersiksanya Anggoro Widjojo yang statusnya dinyatakan buron oleh KPK, sepanjang hari hanya bisa duduk diam di apartemen mewahnya di - mungkin - di Kawasan Bukit Timah (Stttt! Ini kawasan elit favorit koruptor Indonesia lho). Tanpa bisa nongkrong ngopi sambil kongkow-kongkow lagi di warung-warung favoritnya di Jakarta dan Surabaya, tempat asal Anggoro.

Saya juga kerap membayangkan buronan lainnya, Maria Pauline, pembobol Bank BNI, hanya bisa menghabiskan hari-harinya di depan televisi. Tanpa dikelilingi banyak sanak saudara dan rekan dekat yang menemani. Mau keluar rumah pun enggan karena tak kenal tetangga kiri-kanan. Ingin jalan di Orchird Road takut dimata-matai teliksandi. Lalu, apa enaknya uang segudang jika keintiman tak terpenuhi? Seperti penyair dengan puisi-puisi "lapar" mereka, padahal yang ia tahu cuma buku-buku teori dan seuplik ruang di kamar kerjanya saja. Omong kosong!

Kembali ke "hadiah" langka yang saya dapat di pagi 23 Oktober lalu itu. Ketika itu jarum jam kira-kira di angka delapan pagi. Langka, karena memang saya baru pertama kali melihat seorang Singapura sebahagia di hari sepagi itu. Jika saja bus yang saya tumpangi tidak segera berangkat, saya mungkin akan sekedar menyamperi dia. Sekedar berbagi rokok Indonesia dengan dia sembari mengobrol apa adanya. Oh..., nikmat benar! Berkepul-kepul dengan asap rokok di pagi yang cerah, sembari mengobrol dengan lelaki yang terlihat bahagia.

Meski segalanya serba tertib, teratur, aman-tentram, sejahtera, penjabatnya tak korup, serta polisinya yang tak pernah "menakut-nakuti" warganya, kata "bahagia" sungguh sangat-sangat sulit ditemui di jalan-jalan di Singapura. Di Asia, Singapura menempati urutan ke-49 negara terbahagia. Untuk urusan ini, Indonesia patut berbangga. Meski rakyatnya kerap dikibuli pejabat-pejabat pamong praja dan bapak-ibu wakil rakyat yang katanya terhormat, tapi Indonesia berhak menduduki posisi ke-16. Jauh lebih bahagia dibanding Singapura.

Saya tentu tidak bisa menjelaskan secara detil kenapa mereka tak bisa sebahagia kita. Tapi, sepengamatan saya, keintiman adalah hal utama yang hilang dari negeri yang pejabat tingginya tercatat bergaji tertinggi di dunia itu. Antar-tetangga tidak saling kenal, antar-keluarga sudah putus silaturahi. Antar-teman kerja hanya ada hubungan profesional. Setiap orang sepertinya selalu diburu waktu untuk menghasilkan uang, untuk menjamin kelayakan hidup.

Di negeri sehebat Singapura ini, saya justru menemukan bahagia pada lelaki bertubuh semampai yang hanya sanggup menghisap rokok lintingan. Saya juga asyik mendengar canda saru dan nakal pedagang-pedagang pasar loak di Thief Market, Singapura. Uang, sekali lagi terbukti tak mampu membeli sebuah kebahagiaan. Lebih-lebih jika uang yang didapat dari hasil mengkibuli rakyat miskin seperti di Indonesia.

Ayo, dukung KPK!!!


sultanyohe


NB: Tulisan Rasa Singapura yang lain, bisa disimak di http://posmetrobatam.com/index.php?option=com_content&view=category&id=24&Itemid=89


Baca Selengkapnya...

Monday, April 20, 2009

Bocah di Beratus Pulau




Beratus pulau, beratus pula kisah tentang bocah penghuninya. Dari kisah gembira dengan kapal mainan kayu buatan sendiri, hingga cerita sedih kehilangan sebagian waktu masa kecil karena harus membantu orangtua mencari nafkah. Inilah yang tersimpulkan dari beberapa pekan saya mengunjungi beberapa kampung pesisir tua di Kepulauan Riau.

Kisah saya awali dari Kampung Kertang, di dekat Jembatan III Barelang. Kamera seolah tak tahan untuk segera mengabadikan bocah bernama Tedi Syahputra yang tengah asyik bersama seorang rekannya main kapal kayu buatan mereka sendiri (foto 1). "Om... foto om, foto!" mereka berteriak-teriak minta saya memfotonya. Sangat menggembirakan.

Kegembiraan di Kertang tersambung ketika dua bocah lainnya meminta saya memfotonya (foto 2). Berpose sekenanya, perut saya mengeras oleh tawa yang tak tertahan manakala melihat hasil foto bersama dua bocah ini. "Mana gigi kalian?" tanya saya pada mereka. Tapi, tanpa menjawab keduanya segera kabur berlari sambil tertawa-tawa.

Tapi, kegembiraan itu sedikit menguap ketika di kejauhan, seorang bocah menyembulkan kepala dengan malu-malu di jendela (foto 3) rumah papan milik orangtuanya. Ketika pandangan kami bertemu dan saya memberi isyarat untuk memfoto dia, kepalanya berangsur diturunkan.

Dari Tanjung Sebauk di Pulau Bintan, saya ditemani bocah bernama Heikal ketika menjelajah pantai yang dipenuhi tanaman laut tersebut (foto 4). Dengan membawa sebuah keranjang tampar, setiap beberapa meter dia menghentikan langkahnya. Meraba-rabakan tangannya di dasar pantai, untuk kemudian memungut sesuatu. ''Gonggong," katanya. ''Seratus biji dijual 30 ribu. Sehari saya bisa dapat duaratus biji,'' rinci Heikal ketika saya tanya berapa penghasilannya sehari. Untuk ukuran saya, penghasilan Heikal lebih dari lumayan.

Di Belakangpadang lain lagi kisah yang saya dapatkan. Di bagian pulau eksotis yang bernama Dapur Arang, saya temui beberapa bocah yang asyik bermain di pemakaman Tionghoa. Seorang bocah bertampang sangar menghampiri saya dan memohon berbagi rokok yang tengah saya hisap. ''saya sudah nggak sekolah Om. Jadi sudah biasa merokok," kata bocah itu. Saya beri sebatang dan dia minta saya untuk memfotonya ketika tengah asyik menghisap rokok (foto 5). Sesudahnya, rekan-rekannya yang lain segera mengerubutinya, minta jatah menghisap rokok. Jadilah pemandangan yang memilukan.

Masih di Belakangpadang, saya sempat berpapasan dengan tiga bocah dengan gembira bermain kompang (foto 7) usai sekolah, dan "Popeye" junior yang dengan sangat berani duduk di atas perahu yang akan membawanya pulang sekolah (foto 6).

Di Kampung Agas, Tanjunguma, rasa bersalah saya terus meronta-ronta ketika memfoto sejumlah bocah yang tengah belajar di rumah milik seorang warga, Sitepu (foto 8 dan 9). Sitepu yang juga bertindak sebagai guru menjelaskan, semua anak didiknya adalah anak tetangga-tetangganya sendiri. Beberapa di antaranya bahkan ada yang tidak bisa belajar di sekolah resmi. Begitu ironis, jika mengingat sepelemparan batu dari rumah Sitepu, berdiri megah Pasar Induk Jodoh senilai puluhan miliar yang mangkrak, Pacific Diskotique, serta DC Mall yang wangi itu








Baca Selengkapnya...

Thursday, April 02, 2009

Seperti Artis, Menggunjing Aris

Beberapa pertanyaan, baik langsung maupun lewat SMS, Kamis, 2 April kemarin banyak menghampiri saya. Inti semua itu mempertanyakan pemilihan judul saya di halaman Coverstory POSMETRO edisi hari yang sama. "Seperti Artis, Menggunjing Aris," kalimat inilah yang saya pilih sebagai judul, dan kemudian menjadi penyebab SMS dan pertanyaan itu bermunculan.

Sebelum berita ini diturunkan pun redaktur pelaksana saya bertanya apakah judul itu tidak terlalu "melebar-memanas". Tapi saya kadung kesengsem dengan judul itu. Butuh energi sebesar dua piring nasi plus secangkir kopi kental untuk menemukan judul yang pas - menurut saya - seperti itu. Ah, cuma bercanda, haha...
Sebetulnya artikel berjudul "Seperti Artis, Menggunjing Aris" adalah berita biasa. Bahkan sangat biasa menurut saya. Isinya tentang Aris (Aris Hardy Halim, Wakil Ketua DPRD Batam) yang ditengarai menggunakan mobil milik Pemerintah Kota Batam sebagai alat kampanye dia mencalonkan diri kembali. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini sudah sangat sering terjadi. Beberapa tulisan serupa juga sudah sering diturunkan POSMETRO menjelang Pemilihan Umum 2009 ini. Bahkan POSMETRO menjadi satu-satunya koran di Batam yang pernah menurunkan berita dugaan politik uang yang menyangkakan Raja Mustakim, caleg Partai Golkar untuk DPRD Kepri. Tak tahu kenapa koran lain di Batam ogah menulis berita semacam ini.

Apalagi berita lanjutan tentang Aris yang terbit pada Kamis, 2 April itu, berita lanjutan di halaman yang sama: Coverstory. Halaman yang sejak lahir 1 September 2008 silam hingga sekarang, saya yang menggawangi (kecuali untuk terbitan Minggu, karena Sabtu saya libur dan harus menjenguk anak-istri di Singhapur). Isi berita itu sangat bisa. Melanjutkan kasus dugaan pelanggaran Aris yang isinya cuma konfirmasi dari pihak sana-sini.

Semula ketika diusulkan sebagai artikel coverstory, saya menolak. Pikir saya, artikel ini ndak mutu dan sangat-sangat klise. Apalagi tiga wartawan yang menulis artikel itu hanya mengulang-ulang (baca: mempertegas) pernyataan di berita lama tanpa memberikan hal baru. Sebelum kemudian Nur Syahrullah, wartawan yang ngepos di DPRD dan Kantor Pemko, bercerita bagaimana hebohnya gedung DPRD dan Kantor Walikota atas berita pertama Aris. ''Kabeh podo ngomongin Aris, Cak,'' kata Nur kepada saya dalam bahasa Jawa yang artinya kurang lebih: 'Semua pada membicarakan Aris, Bang'.

Sekejap di otak saya membayang, betapa populernya Aris saat ini. Seperti artis yang tengah naik daun, Aris digunjingkan di sana-sini oleh rekan sejawatnya di DPRD. Digunjingkan pejabat-pejabat birokrasi di Pemko Batam. Kemudian, saya dudukkan si Nur di depan komputer saya. Saya suruh dia mengetik sedikit diskripsi seperti apa gunjingan-gunjingan tentang Aris berlangsung di DPRD dan Pemko.

Tambahan cerita dari Nur beres. Berikutnya giliran saya mempercantik dan membuat artikel enak dibaca. Satu jam kemudian artikel pun selesai, dan judul "Seperti Artis, Menggunjing Aris" telah terlayout dengan rapih lewat tangan Dobby Fahrizal.

Tak lupa saya tempelkan foto Aris yang benar-benar berpose seperti artis untuk bisa memperkuat artikel. Untuk yang terakhir ini, saya sampai harus minta file foto dari fotografer Batam Pos, Iman Wahyudi. File-file foto Aris yang dimiliki POSMETRO, ndilalah... nyaris semuanya menampilkan Aris yang sebenar-benarnya politikus. Tidak ada Aris yang "artis".

Sebetulnya, inilah bibit kekhawatiran dan pertanyaan rekan-rekan atas judul saya di atas. Kenapa Aris ditampilkan semirip artis? Saya seperti melecehkan anggota dewan yang terhormat. Wakil Ketua, lagi. Dari Partai Keadilan Sejahtera, pula. Partai yang mengklaim sebagai partai anti-tipu-tipu, anti-bohong, anti-korupsi.

Beberapa pertanyaan saya jawab sekenanya: "Suka-suka saya memilih judul itu, hehehe...". Tapi jika menyimak proses lahirnya artikel di atas, sudah terjawab dengan jelas kenapa saya memilih judul "Seperti Artis, Menggunjing Aris." Dalam tatanan jurnalistik dan etika berbahas, judul itu tak masalah. Tapi benarkah saya melecehkan anggota dewan yang katanya terhormat?

Jawabannya, terserah siapa yang menilai. Sebagai penanggungjawab halaman, saya berkewajiban memastikan artikel yang disetor ke saya sesuai kaidah jurnalistik dan enak dibaca. Titik. Apakah nanti artikel itu menjadi "melebar-memanas", itulah efek sebuah berita. Ada aksi ada reaksi. Ada orang melanggar, tentu akan ada proses penegakan hukum. Makanan yang kita makan malam sebelumnya, sudah pasti besoknya akan keluar menjadi taik. Ini demokrasi, bung! Selama semua sesuai dengan kaidah yang telah ditentukan, semuanya akan aman-aman saja. Dan jika ada yang tersinggung, saya malah mempertanyakan tingkat kedewasaan mereka.

Di hadapan Presiden SBY, big-big-big bos (maksudnya saking tingginya jabatan) saya Dahlan Iskan beberapa waktu lalu menyindir, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah dewasa; dunia usaha cukup dewasa; pers sudah belajar cepat dan kini tumbuh menjadi lebih dewasa; sialnya, politikus dan birokrat kok masih saja seperti anak-anak remaja. Suka ngambek dan semaunya. Masih suka ngemplang uang rakyat dan mempersulit urusan. Duh, padahal di bagian yang belum dewasa inilah dipertaruhkan nasib negeri ini.

Di negeri demokrasi seperti Indonesia, hal pertama yang harus diketahui seseorang yang mencalonkan diri menjadi politikus (atau birokrat aka PNS), bahwa mereka digaji oleh rakyat! Melayani rakyat! Bersedia dikritik, dihujat, bahkan diturunkan rakyat! Bukan sebaliknya, menipu-nipu rakyat atau minta dilayani rakyat. Di Amerika Serikat, Rush Libaugh, pengasuh sekaligus penyiar radio pada acara The Rush Limbaugh Show yang disiarkan sekitar 650 radio di Amerika, berani mengeluarkan makian binal bahkan doa kematian untuk presiden mereka, (Mu) Barrack Hussein Obama. Tapi, Obama nyante-nyante saja atas olok-olok Rush yang didengar 30 juta warga Amerika itu.

Di Batam, pers memang belum mempunyai posisi yang diidam-idamkan seperti di negeri Amerika atau Eropa. Ada beberapa orang (politikus, pengusaha nakal, tokoh masyarakat) yang bahkan tidak bisa disentuh. Ada pejabat yang gemar mengeluarkan uang puluhan juta agar kegiatannya yang baik-baik diliput, dan membungkam berita-berita miring. Saya menyadari ketidakmampuan ini. Media bukan takut dengan politikus atau pejabat yang tak tersentuh itu. Tapi media takut pada cara politikus itu yang gemar menipu simpatisannya untuk main hakim meluruk kantor media. Ada banyak politikus dan media yang belum dewasa. Dan inilah yang sangat menakutkan. Berbekal isu SARA, kantor media bisa diratakan dengan tanah (tentu saja ini analogi yg berlebihan).

Ketika Aris saya ibaratkan sebagai artis, seharusnya dia tidak marah (Sttt, dia tak kenal saya! Hehehe). Karena dari keringat sekian ratus ribu orang seperti sayalah Aris dan semua rekan-rekan wakil rakyat serta birokrat bisa lenggangkangkung memakai mobil dinas dengan bensin yang selalu penuh. Iseng-iseng saya pernah menghitung berapa besar pengeluaran saya untuk - salah satunya tentu - membayar gaji pejabat tersebut.

Jika satu hari saya menghabiskan sebungkus rokok Lucky Strike seharga Rp8.500, saya harus menyetor uang pajak ke negara sebesar Rp3.590. Karena istri jauh, setiap makan saya harus beli. Jika sekali makan saya mengeluarkan Rp10.000; dan sehari dua kali makan, setoran saya untuk negara sebesar Rp2.000 per hari (setiap makan dipajaki 10 persen). Untuk rokok dan makan saja, sehari saya harus setor 3.590 + 2.000 = 5.590. Sebulan? Saya harus menyisihkan Rp167.700 untuk negara.

Belum lagi pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor, pajak rumah, port tax tiap kali nyebrang ke Singhapur, dan lain-lain pajak beraneka nama. Jika Rp167.700 dikalikan sekian ratus ribu warga Batam, berapa miliar yang bisa dikumpulkan? Dan uang yang terkumpul itu, sebagian untuk menggaji para "terhormat-terhormat" itu!

Tentu saja pengeluaran-pengeluaran itu akan terasa lebih ikhlas jika Aris dan rekan-rekan di DPRD, serta birokrat bekerja dengan baik. Setidaknya tidak melanggar aturan. Tapi jika ada pelanggaran, para "artis-artis" itu juga harus legowo dicaci-maki rakyat yang telah susah payah berkeringat untuk mengongkosi mobil mewah dan gaya hidup wah mereka. Jika tidak, entahlah...

Menyitir lirik lagu Panggung Sandiwara- nya God Bless ciptaan Taufik Ismali, ...dunia ini memang panggung sandiwara.... Dan sang artis, boleh dong kita pecundangi dengan kritik dan makian, jika tampil sangat mengecewakan. Lebih-lebih kalau sudah menipu kita.

Oh ya! Jangan lupa tanggal sembilan pemilihan umum digelar! Ayo, datang ke TPS-TPS dan pelototi mana caleg yang berkemungkinan tidak menipu kita! Saya punya sedikit tips untuk memilih caleg yang berkemungkinan tidak menipu kita.

Dari sekian ratus gambar yang tersenyum manis ke kita, tentu sangat sulit menentukan mana yang benar dan mana yang ora penet (nenek saya memakai frasa Jawa ini sebagai orang yang berkelakuan amburadul). Tips saya itu sederhana: masuk TPS, lihat gambar dengan seksama; dan ndak usah dicoblos semua! Sederhana, bukan.

Baca Selengkapnya...

Monday, March 02, 2009

Kisah Cinta Dua Singa (12)

: Bola Karet Bapak

Adakah hal yang lebih menyenangkan yang bisa dilakukan seorang bocah kampung ketimbang membikin sebuah gol dalam permainan bola? Ketika membocah, bapak adalah satu di antara lima jago bola di kampung bapak: Desa Pagentan, Singosari. Jagoan pertama adalah rekan senior bapak, Agus Fajri. Jagoan kedua dan ketiga, Ath'o Afianto dan sepupunya, Aris Munandar; keempat Khoiron, dan terakhir bapak.

Jika kelima orang ini main bersama, terlebih dahulu kami harus membagi diri, mendistribusikan kekuatan yang seimbang pada dua tim. Jika Agus dan Ath'o di satu tim yang sama, bapak dan Aris atau Khoiron harus berada di tim lawan.

Begitulah kami mewarnai tiap sore dari masa bocah dan remaja kami: berasyik masyuk lewat permainan bola di Lapangan Sepakbola Tumapel. Orang-orang yang usianya lebih tua lebih suka menyebut "lapangan Tumapel" sebagai "lapangan Pagentan", nama yang sesuai dengan nama kelurahan di mana pusat kedigjayaan kecamatan Singosari kini berada.

Agus terkenal dengan gocekan, dan larinya yang cepat dan lincah. Juga kelicikannya menjegal lawan tanpa kentara. Dia bisa menjatuhkan dengan keras lawan dari belakang, dengan sejumput trik licik: kaki lawan ia jegal, sementara kedua tangannya mendorong tubuh lawan dengan sekelebat. Dan Agus, selalu gembira ditempatkan sebagai penyerang atau sayap kanan.

Ath'o, si bongsor yang selalu mengalah. Tapi tendangannya luar biasa keras dan terarah. Sulit untuk melewati Ath'o jika ia berposisi sebagai bek tengah. Aris, permainannya mirip-mirip dengan Agus. Hanya saja dia terlalu emosional. Dialah kawan kecil bapak yang paling sering terlibat perkelahian. Tercegal sedikit saja, dia bisa marah dan memukul rekannya. Tapi harus diakui, talenta bolanya luar biasa. Fisiknya mengesankan. Semengesankan nasibnya yang selalu sial hingga ia membesar.

Aris, lelaki cerdas yang juga kawan satu kelas bapak ketika kami sama sekolah di Sekolah Dasar Islam Almaarif 02, Singosari. Sayang, kami sekelas hanya empat tahun. Kelas lima dan enam, dia harus pindah ke kota lain, mengikuti bapaknya yang menikah dengan perempuan lain. Aris senasib dengan bapak, dan Tuhan menciptakan kami dengan karakter yang nyaris serupa.

Aris, seolah-olah berteman dengan bayang-bayang kesialan yang mengekorinya sepanjang ia ada. Sewaktu kami sekelas, ia selalu mendapat ranking bagus meskipun tabiatnya brutal dan tak pernah belajar. Dalam satu hal ini, bapak tak pernah bisa mengalahkannya. Dia selalu membuat guru menangis dan rekan-rekannya lari tunggang langgang oleh kenakalannya; namun tetap kehadirannya dirindukan. Tuhan seolah memberikan semua kelebihan pada diri bocah Aris.

Tapi, ketika pada usia SMA dia kembali ke Singosari, sebuah kesalahan fatal ia buat. Selingkar kecil tato yang ia buat di lehernya, pada kelanjutan hidupnya telah menjadi penyebab rusaknya seluruh hari-hari yang ia jalani. Sekolahnya berantakan, keluarganya ogah menerima. Kawan-kawannya menjauh; dan kemudian ia akrab dengan dunia kriminal. Kesalahan tentu saja bukan semata pada Aris dengan tatonya. Melainkan persepsi teman-guru sekolah, serta lingkungan di sekitar Aris yang memandang tato itu buruk. Tato itu neraka.

Terakhir, bapak dengar kabar dari sahabat dekat kami berdua, Andika, ia masuk penjara Jakarta gara-gara pencurian motor.

Aris yang selalu melindungi bapak di kala kami membocah, selalu ada di hati bapak. Entah kenapa, kebrutalannya saat bocah dan remaja, tak pernah mempan di hadapan bapak. Bapak tahu, dia membenci kelemahan atas ketidakberdayaan pada bapak. Setiap kali kami berantem, dia tak pernah bisa memuncaki emosinya. Dia lunglai oleh ketidakberdayaan itu. Dia tak bisa berbuat apa-apa atas semua kelemahan dia sendiri. Dia tak pernah bisa menyentuh bapak. Bapak tak tahu sebabnya. Mungkin karena bapak dan Aris adalah bocah senasib: dua bocah yang besar tanpa kehadiran seorang ayah. Aris ketika itu mungkin tahu, bocah-bocah yang membesar hanya oleh kasih sayang seorang ibu, tak pernah bisa digertak oleh kenakalan sebentuk apa pun.

Sementara Khoiron, kemampuan bolanya sebetulnya biasa saja. Tapi fisik dan postur tubuhnya oke. Larinya bisa diandalkan. Tapi sayang, masa remajanya tak terlalu panjang dihabiskan bersama kami di lapangan bola. Semenjak bocah, Khoiron harus membantu kakaknya jualan pangsit mie di pinggir lapangan. Jika petang hadir, ia hanya bisa memandangi kami yang tengah main bola dari jauh sembari mendirikan tenda pangsitnya. Sejak saat itu, Khoiron yang juga sepupu bapak, tak pernah bisa lagi dengan leluasa menendang bola seperti kami.

Bagaimana dengan bapak sendiri? Jauh masa setelah bapak dewasa, saat bapak bermain bola untuk menjaga kebugaran di Batam, mantan pemain nasional Indonesia yang melatih kami mengatakan, bapak sebenarnya punya dasar permainan bola yang mencukupi. Dasar yang dibentuk dari masa bocah. Persoalannya, tubuh bapak yang tak pernah beranjak dari bobot 45 kilo, terlalu ringkih untuk bisa bermain bola. Nafas bapak terlalu pendek. Dan bermain sepakbola, fisik adalah hal utama yang harus diperhatikan. Dan kelemahan ini, ada sejak bapak kanak-kanak. Tubuh bapak tak pernah bisa tegap berwibawa. Duh...

Tapi, tubuh bocah bapak yang rapuh, tak pernah menjadi persoalan saat kami asyik bermain bola. Kawan-kawan main bapak seolah menyadari, meski bertubuh rapuh, tapi ada sesuatu hal yang tak pernah bisa membuat bapak menyerah. Mereka tak pernah berani mengesampingkan faktor rapuh itu, jika ingin memenangkan pertandingan. Kelicikan Agus bapak balas dengan kelicikan yang sama. Kemampuan bertahan Ath'o bapak rekayasa sedemikian rupa hingga ia hanya bisa berlari mengekori bapak. Khoiron terlalu enggan berpikir jika melawan bapak. Hanya Aris yang seolah-olah tahu segala macam trik dan kelicikan bapak dan tak pernah bisa bapak taklukkan. Bocah ini memang luar biasa pintar, sekaligus brutal.

Kelak ketika kami sama-sama remaja, di antara malam-malam penuh alkohol dan dentingan gitar tanpa nada, bapak dan Aris kerap membicarakan masa kecil ini. Jika sudah demikian, kami bisa tertawa dan bernostalgia semalam-malaman. Sembari mengelus tato di lehernya yang selalu ia sesali, Aris mencoba mengulik sedikit demi sedikit kehebatan masa silamnya. Masa yang penuh canda dan talenta luar biasa. Masa yang ia sia-siakan gara-gara sebuah kesalahan kecil. Kesalahan yang pada akhirnya membuat ia tak bisa menjadi apa-apa.

Sepakbola selalu ada di hati bapak. Begitu juga dengan Agus, Ath'o, Khoiron, dan terutama si bengal Aris. Masa itu tentu saja tak akan pernah datang lagi. Masa di mana bapak merengek-rengek pada nenekmu Zumronah untuk dibelikan bola karet. Permintaan yang ketika itu terasa begitu mahal dan hanya bisa bapak dapatkan setelah hari raya Idul Fitri. Bola karet impian bapak yang sanggup terbeli dari mengumpulkan angpau-angpau dari saudara-saudara di Hari Raya. Masa di mana sebuah kemewahan adalah menendang bola kulit milik sekolah di mana bapak belajar. Bola kulit yang tak pernah bapak bisa miliki hingga bapak mendewasa. Masa penuh keprihatinan sekaligus kegembiraan. Masa yang jelas tidak pernah terjadi padamu, Kenny!

Tapi kau, Ken Danish, kelak ketika sudah berani bepergian sendiri, datanglah di waktu petang ke lapangan Tumapel! Ceritakan apa-apa yang kau lihat ketika itu kepada bapak; apakah masih ada bocah-bocah yang bertahan bermain bola di antara debu dan rumput liar lapangan itu? Apakah masih ada generasi Aris-Aris lainnya di sana?

Ini penting bagi bapak Nak! Bagi kamu juga! Bahwa bakat yang diberikan Tuhan, tak pernah selamanya menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang. Seperti halnya Aris yang tak pernah bisa berbuat apa-apa dan selalu menyesali kecerobohannya. Aris yang penuh talenta itu, mungkin jika membaca tulisan ini akan sepakat dengan bapak: hal terpenting dalam hidup adalah waspada! Waspada! Seperti sebuah iklan layanan masyarakat di televisi, wasladalah... waspadalah...

Baca Selengkapnya...

Wednesday, February 18, 2009

Foto yang (pernah) Ditolak



Foto ini saya hasilkan di awal euforia saya memiliki kamera digital, sekitar tahun 2006. Foto makro dengan obyek sepasang tangan petani tomat organik yang memamerkan tomat yang dipanennya. Saya menyukai foto ini, karena kuatnya kontras foto dan tema.

Tomat yang bersih dengan tangan yang penuh lumuran tanah. Warna tomat yang dominan merah berada pada satu wadah kekar tangan milik si petani. Foto yang bagi saya, sangat sederhana.

Satu kali di tahun 2007, foto ini saya sertakan dalam pameran Pewarta Foto Indonesia Batam di Megamall. Tapi kurator menolak foto itu. "Tidak kuat, sangat tidak jurnalis...," begitulah alasan yang saya terima atas penolakan tersebut. Kurator juga beralasan, gambar (hanya) tangan tak cukup mencirikan foto jurnalistik yang hidup. Foto jurnalistik, menurut mereka, harus ada (aktivitas) orang, dan itu (kalau bisa) benar-benar utuh. Ketika itu, saya kontan tertawa.


Tapi saya kadung mencintai foto ini. Saya simpan baik-baik, dan kerap saya pandangi ketika mata ini sudah capek melototi gambar-gambar seronok di Internet. Hingga, datanglah warta lomba foto yang diadakan Ranch Market: Health & Pleasure Ranch Photo Competition 2008: 1 - 27 Dec 2008.

Saya ikutkan foto itu, dengan persiapan mental atas penolakan. Saya cukup sering ikut lomba foto. Dan nyaris semuanya berbuah penolakan. Sempat menjadi juara III lomba foto PLN Batam (2007), dua foto saya hanya masuk sebagai foto pilihan Rida Award (2007 dan 2008). Satu foto saya yang menjadi finalis lomba foto bikinan Yayasan Peduli Hutan Lestari akhir 2008 silam, berakhir dengan kekalahan. Dan foto tomat itu, semula saya yakin akan bernasib sama.

Tapi, Alhamdulillah perkiaran saya salah. Tiga juri (dua menjadi fotografer favorit saya: Arbain Rambe dan Jerry Aurum) sepakat memilih saya sebagai pemenang kedua. Foto yang pernah ditolak itu, akhirnya mendapatkan tempat yang layak.

Baca Selengkapnya...

Monday, February 09, 2009

Kian Meng-Golput

Sebuah pertanyaan dari seorang rekan menyodok kegolputan saya. Tidak memilih memang sebuah pilihan, tapi apakah kita akan membiarkan proses demokrasi dikuasai caleg-caleg culas yang menjadi penyebab golput itu sendiri? Jawaban sementara saya kira-kira begini, "Pemilu 2009, saya masih tetap golput sembari menunggu caleg yang membumi. Entah sampai kapan."

Dalam begadang Minggu malam di pekan kedua Februari yang disertai secangkir kental kopi cap Tangker, kami membicarakan demokrasi. Sangat Melayu! Namun itu sudah cukup membasuh dahaga dari rutinitas kerja yang itu-itu saja. Sejauh ini, kerja saya menyenangkan. Tapi, rutinitas tak jarang membuat semua berangsur runyam. Harus ada secangkir kopi kental (atau sekaleng bir) di antara obrolan panjang agar hidup kembali bergairah. Minggu malam itu, secangkir kental kopi cap Tangker, mie rebus, rokok, serta gorengan, sudah sangat membantu mengembalikan kegairahan. Dan obrolan tentang demokrasi, tidak ada salahnya untuk kita kemukakan di musim partai tebar pesona seperti sekarang ini.

Kegolputan saya sejak 1998 dipicu oleh ketidakpercayaan saya pada para politikus, bukan demokrasi itu sendiri. Ini memang klise, dan (seharusnya) tidak perlu saya banggakan. Tapi ketika seorang rekan bertanya tentang pilihan menjadi golput, jawaban klise itu kembali mengemuka. Meng-golput bukan saya takut dosa karena khawatir memilih politikus culas. Meng-golput adalah pilihan itu sendiri. Demokrasi. Dan dosa bagi saya, adalah melakukan apa pun tanpa kita menyadari apa yang tengah kita lakukan itu. Dalam hal apa pun. Sholat bagi saya berdosa ketika kita tidak punya cukup kedigjayaan untuk mengetahui untuk apa kita melakukan sholat.

Minggu pagi sebelum malam begadang itu, bersama rekan-rekan wartawan Batam kami beradu otot di lapangan futsal melawan pengurus Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Skor imbang 5-5, dan Tifatul Sembiring memborong dua gol PKS. Jika bukan karena tubuh tinggi besar Ria Saptarika yang berada di bawah mistar PKS, mungkin gawang mereka sudah kami berondong belasan gol.

Saya tidak mencetak sebiji pun gol. Posisi saya di pertahanan. Tapi sudah cukup puas menjengkangkan dua kali kaki Tifatul, presiden PKS itu. Membuat dia melontarkan peringatan keras pada saya. "Hey... jangan (tendang) kaki lah,'' begitu katanya sembari mengacungkan dua jarinya. Entah sebagai penanda peace atau peringatan dia bahwa saya telah melanggarnya dua kali.

Untuk selanjutnya membiarkan tubuh ringkih saya dihujani emosi Tifatul yang meledak lewat bebatan kakinya pada saya, gaprakan bola, serta aneka jenis kekasaran lain.

Hal itu biasa di permainan futsal. Saya salut dengan reaksi berani Tifatul. Dalam bahasa daerah saya di Malang, ''Arema banget!" Dia saya kasari, dan dia membalas dengan tanpa belas kasih. Saya gembira dengan hal ini. Saya beranggapan dia cukup punya nyali untuk mempertahankan kepentingannya. Ideologinya.

Mungkin bagi Tifatul dan praktisi partai lainnya, futsal hanyalah sebuah permainan. Melawan para wartawan di musim kampanye seperti ini adalah trik untuk mengakrabi kami, untuk selanjutnya merengkuh untung lewat pemberitaan. Bagi saya, futsal - juga sepakbola - adalah bagian dari permainan emosi. Sepakbola adalah cara yang tepat untuk mempelajari karakter lawan. Menelisik sejauh mana tingkat intelektual lawan. Untuk selanjutnya berdialektika, mengira-ngira lingkungan hidup seperti apa membesarkan mereka; apa saja yang sudah mereka pelajari; buku apa saja yang sudah mereka baca; bagaimana kehidupan religi mereka; bahkan kita bisa bisa sedikit mengintip apakah kehidupan seksual lawan main sehat adanya.

Kenapa bisa demikian? Karena bola itu permainan cerdas. Kapten AS Roma, Fransesco Totti, mungkin hanya seorang pemain bola tamatan sekolah dasar. Bahkan membaca surat perjanjian kontrak bernilai jutaan dolar pun pun harus dibantu istrinya. Tapi untuk urusan mempelajari lawan untuk kemudian menarik untung lewat sebuah permainan bola, Totti adalah salah satu ahlinya. Wayne Rooney bisa jadi dianggap mantan pelatihnya di timnas Inggris, Sven-Goran Ericsson, sebagai pemain hebat tak berotak. Karena sejarah kehidupan masa kecilnya yang melarat dengan keluarga kacau. Tapi, striker Manchester United itu tak akan membiarkan dikasari lawan, dan akan membalas dengan lebih jika ada lawan yang mencoba memprovokasinya. Rooney tidak pintar, tapi jelas ia tidak mau dilecehkan seenak lawan bisa. Tapi sayangnya, Tifatul bukan pemain bola. Dia presiden PKS dan bisa jadi nanti menjadi presiden Indonesia. Dan politik, tentu saja jauh lebih jahat ketimbang permainan bola.

Lalu apa hubungan demokrasi, kegolputan saya, dan futsal di Minggu pagi itu? Begini: Di antara sederet partai yang saya pelajari, PKS sempat mencuri perhatian saya. Ketika pertama kali membaca dan melihat sepakterjang Hidayat Nur Wachid dkk di media-media, saya jatuh hati dengan partai ini. PKS bagi saya sebuah partai modern, santun, dan menawarkan tradisi religius yang berintelektual. Karena golput, saya memang belum sempat mencoblos PKS. Tapi dalam perkenalan awal itu, hati saya berbungah, ternyata masih ada partai yang mungkin masih bisa saya andalkan. Saya yang masih menggemari bir, ternyata bisa jatuh hati dengan PKS.

Saking berharapnya dengan partai yang satu ini, menjelang pemilu 2004 silam saya harus menelepon ibu di Malang. Berdiskusi kecil tentang partai apa yang akan kami (ibu) coblos. Saya menyarankan ibu untuk memilih PKS, meskipun secara tradisional kami adalah pendukung Gus Dur. Kepada beberapa karib, saya juga merekomendasikan PKS sebagai partai pilihan, partai yang bisa diharapkan. Meskipun ketika itu, saya teguh tidak mencoblos. Demokrasi, memberikan ruang pada saya untuk tidak memilih.

Ironisnya kemudian, PKS di mata saya tumbuh menggurita dengan idealis awal yang tidak terpertahankan. Dari partai itu, lolos politikus-politikus abu-abu yang merusak kepercayaan saya pada PKS. Di Batam, siapa yang tidak jengah dengan wakil-wakil PKS yang "begitu-begitu" saja. Ria Saptarika, wakil walikota Batam itu, tidak cukup hebat membela kepentingan rakyat. Setali tiga uang Aris Hardi Halim, ketua DPRD dari PKS. Sepakterjangnya di Gedung DPRD sama lambannya ketika ia menendang bola atau dengan mudah dilewati oleh pemain bola kami. "Nafasnya" tak cukup panjang untuk membela kepentingan rakyat, menolak kenaikan tarif listrik, ATB, atau mengusahakan kenaikan upah minumum kota yang layak. Aris tak punya "nafas" untuk bisa bermain futsal selama 2x20 menit.

Dan Tifatul, si presiden PKS itu, tak cukup menyadari saat kakinya terbebat oleh kaki saya sebanyak dua kali, karena kelambanannya bergerak menghindar. Dia emosi karena menganggap saya bermain kasar. Dia tak menyadari bahwa dirinya tak cukup cepat menarik dan menyelamatkan kakinya, saat saya menerjang bola yang ia pegang. Kemudian dia bermain membabi-buta, mencoba membalas saya. Dan alasan ini, sudah cukup untuk semakin mengentalkan kegolputan saya. Setidaknya untuk pemilu 2009 nanti.


Tulisan ini dibuat dalam kapasitas sebagai rakyat jelata, pecinta futsal, dan pemegang kartu NPWP.

Baca Selengkapnya...

Wednesday, January 07, 2009

Kisah Cinta Dua Singa (11)

: Presiden Layangan dan belut buruan



Dari kepulangan tak biasa kemarin, Nak, telah melemparkan bapak pada sebuah kenangan akan masa kanak-kanak. Beberapa waktu lalu bapak sudah pernah bercerita bagaimana bapak dengan susah payah dilahirkan oleh nenekmu Zumronah. Kini, bapak akan menguliti sedikit demi sedikit kisah tentang rekahan kulit betis mungil bapak yang merompal panjang karena daki yang begitu tebal. Ketika bapak membocah.

Kami biasa menyebut daki sebagai bolot, satu kotoran yang tentu saja tak pernah kau peroleh karena tempatmu bermain kini tak cukup kotor. Ataupun kalau kau bermain lumpur, atau apalah yang bisa menciptakan bolot, cepat-cepat ibumu pasti segera membasuhnya dengan sabun berbusa wangi non-bakteri. Bapak dulu, harus mengumpulkan daun lamtoro sebagai pengganti sabun. Mandi di gerojok mata air yang paling menyegarkan. Di antara canda dan tawa bocah desa. Setelah bolot kami gasak dengan remasan daun lamtoro, kami masih harus menggosoknya lagi dengan sebongkah batu gosok yang kami buru di pinggir-pinggir kali. Kadang kami menggosok terlalu keras hingga menghasilkan luka berdarah. Tapi tidak mengapa, asal bolot dapat terangkat, dan mulut nenekmu Zumronah merekah senyum melihat kaki bapak ini yang sedikit bersih ketika pada petang hari bapak pulang.

Daki atau bolot yang biasa memenuhi betis, lengan, bahkan ceruk-ceruk di leher; bapak biasa peroleh dari seharian menendang bola di lapangan berdebu. Atau becek ketika hujan. Bapak juga kerap memanen bolot setelah sesiangan berada di bawah terik matahari, menunggu layang-layang yang putus. Berkejaran dengan kawan, berlomba mendapatkan layangan meski kami harus menerjang lumpur sawah setinggi paha. Nikmat sekali, ketika itu Kenny! Bapak yang ketika itu bertubuh kurus, kecil, dan hitam, selalu kalah berebutan dengan rekan-rekan yang lain yang lebih perkasa. Terutama dengan Mukhsin, si presiden layang-layang.

Mukhsin? Bagaimana kini kabar kawan satu ini? Masih setia kah bermain layang-layang? Terakhir bapak ketemu dia sesaat sebelum bapak merantau ke Batam, 2002 silam. Dia yang ketika itu adalah pemuda ganteng berhidung mancung dengan jambang bulu bambu di seputar mulutnya, masih tetap mencintai layang-layang.

Ada secuil cerita kenapa Mukhsin kami juluki sebagai "presiden layang-layang". Tentu saja karena keahliannya beradu sambit layangan aduan. Juga kepiawaiannya mengejar layang-layang yang putus. Tidak seperti bapak yang harus menunggu di tengah pematang dengan berteman matahari di atas kepala, Mukhsin hanya duduk mematung memperhatikan dua layang-layang yang beradu sambit. Memperhitungkan arah angin dengan seksama. Dan segera berlari manakala ada sebuah layang-layang yang putus. Matanya yang tajam dan seolah tanpa pernah berkedip, memilih menelusuri sisa benang layang-layang yang putus ketimbang layang-layang itu sendiri. Ketika kami dengan perasaan gegap gempita berebut layang-layang yang sudah berada beberapa meter dari atas kepala kami, tiba-tiba layang-layang itu mengudara kembali. Di belakang kami, dengan gembiranya Mukhsin berteriak telah mendapatkannya. Ia tangkap itu benang, dan sirnalah mimpi kami membawa pulang layang-layang.

Ini tentu sangat menjengkelkan. Tapi bagaimanapun juga, Mukhsin adalah yang terbaik untuk semua urusan tentang layang-layang. Bapak harus mengakuinya. Terakhir, beberapa kejuaraan layang-layang tingkat kabupaten Mukhsin menangi. Julukan "presiden layang-layang" semakin menemukan pembenaran. Ia juga kemudian menjadi pengrajin layang-layang. Merek layangannya bahkan, cukup diakui sebagai layang-layang yang paling perkasa untuk aduan.

Selain Mukhsin, orang yang menjengkelkan kami adalah Wak Senan. Dia pemilik beberapa petak sawah. Kejamnya naudzubillah - semoga amal ibadahnya diterima - Tapi kesan kejam itu kami tancapkan ketika kami belum bisa berpikir, bahwa Wak Senan melakukan semua hal yang menjengkelkan kami karena dia melindungi kepentingannya. Kenakalan bapak dan kawan-kawan, memang kerap membuat rusak padi milik Wak Senan yang baru disemai. Atau, kaki-kaki brangasan kami yang tanpa kompromi merangsak kuningnya padi saat mengejar layang-layang yang jatuh di tengah sawah, membuat rontok ribuan butir padi yang siap dipanen. Itu tak kami perhitungkan. Ketika itu, yang kami tahu, Wak Senan dengan ketepel dan celurit di tangannya, sanggup membuat kami lari tunggang langgang.

Teriakan-teriakannya untuk mengusir kami, bagai suara harimau yang tiba-tiba muncul dari rerimbunan semak, untuk menerkam kelengahan kami. Wak Senan, dengan benjol sebesar bola pingpong di dahinya - yang kabarnya didapat dari sebuah peluru ketepel lawan ketika muda - terasa begitu menakutkan bagi bapak dan kawan-kawan bapak ketika itu.

Tapi musim layang-layang tidaklah datang sepanjang tahun. Setahun, bapak hanya bisa menikmati serunya berburu layang-layang putus antara bulan April hingga September. Ketika hujan jarang datang; ketika angin mengencang; dan musim panen diteruskan menanam padi tiba. Di saat itulah daki-daki di betis bapak semakin tebal. Tiap berangkat ke sekolah, bapak terpaksa harus membasuhkan minyak goreng di kaki bapak yang berdaki, agar rekahan-rekahan yang memalukan itu tersamar. Kaos kaki bapak tidak cukup panjang untuk menutupi rekahan itu. Dan setelah musim penghujan datang, giliran belut yang kami sasar. Perburuan belut sama mengasikkan dengan mengejar layang-layang.

Belut adalah makanan penuh gizi yang orang Jepang gemari. Bapak tidak terlalu menggemari, sebenarnya. Tapi, asyiknya berburu belut adalah kelezatan lain yang jauh lebih ingin bapak cari ketimbang menikmati potongan-potongan daging-daging belut yang gurih itu. Setiap kali menyantap daging belut hasil tangkapan, setiap kali pula ingatan bapak tercerabut saat bersitegang dengan belut, menarik mereka keluar. Membanting cepat-cepat tubuh belut di pematang kering hingga sekarat. Untuk kemudian mengumpulkannya dalam satu ikat temali dari jerami muda yang kuat. Setiap kali bapak mengingat adegan per adegan itu, setiap kali pula hilang selera bapak memakan gurihnya daging belut.

Berburu belut menciptakan daki yang lebih tebal di kaki-kaki kami. Tapi apalah arti sebuah daki ketimbang kenikmatan yang kami peroleh di waktu bocah. Sangat nikmat. Dan bapak minta maaf, belum bisa mengajari kamu untuk mengejar layang-layang atau berburu belut. Maafkan bapak, Kenny!

Baca Selengkapnya...